Postingan

KAMAR KUSAM

Gambar
Siang kali ini tak terlalu panas. Matahari sedang malas hari ini. Entah tadi malam belum tidur atau tidurnya gak nyenyak, entah. Matahari hanya diam tak berkata. Di kamar yang tak sebegitu luas, yang hanya muat satu kasur, satu lemari, dan satu kipas inilah, tempat merebahkan badan yang nyenyak, serta boleh ku katakan "dunia kecil" tempatku berproses.  Selain sebagai tempat tidur yang nyaman, di kamar inilah aku sering mengurung diri didalamnya. Berbagai macam aktivitas juga tak luput kulakukan, mulai dari membaca buku, berkarya, memunculkan ide, menggagas pikiran, sampai meluapkan berbagai rasa, dan masih banyak lagi hal-hal yang masih terbilang manfaat yang kulakukan di kamar ini. Di kamar kecil dan kusam ini, pikiran-pikiran bebas keluar. Ide seliar mungkin boleh tercipta. Merenung, muhasabah diri, marah, dendam, cinta, puisi, sepakbola, dendam, dan kasih sayang sudah terjejer rapi di lemari. Ini adalah ruang bebas, di kamar ini, aku tak pernah merasakan malu u...

PEMBICARAAN MENGALIR BAGAI DEBURAN OMBAK YANG SALING BERKEJARAN

Gambar
Adzan Isyak berkumandang, dan sudah sejauh ini kami masih disini. Berteman deburan ombak, kami memulai pembahasan diskusi yang lebih ke serius. Berhadap-hadapan, berdua saja. Dengan adanya buku Pengantar Filsafat kita mulai membedah buku juga membedah isi dari kepala kita. Tak lupa, disetiap pembicaraan otakku selalu siap sedia untuk mencatat hal-hal yang sekiranya penting. Juga menganalisa berbagai pertanyaan yang dilontarkan Ubaid. Pentingkah sebuah negara? Ini yang kita bahas sebagai pendahuluan. Negara penting untuk mewadahi, mengayomi, dan memberi peraturan suatu bangsa, karena tanpa adanya suatu negara, bangsa akan kacau balau, begitu kira-kira ucapan Ubaid dengan memberikan contoh sebungkus rokok, yang bisa ku tangkap. Pembicaraan mengalir bagai deburan ombak yang saling berkejaran. Pembahasan kali ini mengarah ke materi Mapaba. Membedah semua hal yang masih belum difahami dan dikuasai. Ubaid disini bisa dikatakan sebagai pembimbing, yang sudah sepantasnya karena pen...