JURNAL HARIAN #1
(Sabtu, 26 April 2025)
Lagu Tapak Tilas Kerinduan dari The Cloves & The Tobacco menjadi musik iringan aktivitas ku prepare jualan. Sama seperti hari-hari kemarin. Iya, lagu dengan genre Celtic-Punk ini semacam lagu wajib untuk mengiringi harapan dan doa-doa. Liriknya penuh makna dan lagunya menyiratkan semangat.
Karena hari kemarin libur (menghormati Jumatan), debu-debu jalanan terasa mengendap dan agak tebal. Tampak kotor lagi sebab pasca hujan tadi malam. Posisi stand yang dekat dengan jalan yang selalu dilewati kendaran —dari sepeda hingga truk besar— ini, memang sedikit menguras tenaga untuk masalah kebersihan.
Di jam 10-an, anak-anak SMA sudah berkeliaran. Waktu menunjukkan istirahat. Beberapa pembeli juga sudah datang. Anak-anak SMA perempuan yang sering beli es disini wajahnya sudah mulai ku hafal. Walaupun masih belum tau namanya. Mau ngajak kenalan takut dibilang genit. Mau mencoba akrab takut dibilang sok akrab. Ah, bingung.
Anak SMA perempuan yang paling mudah ku hafal adalah yang biasanya beli teh hijau dengan request kadar gula 10 mili. Ia cantik, badannya berisi, berkacamata. Mudah sekali mengingatnya. Aslinya aku ingin mengajaknya ngobrol kenapa ia selalu pesan es dengan gula 10 mili, tapi takut dijawab "sak enak ku".
Jam istirahat telah lewat. Waktu terasa cepat menuju Dhuhur. Biar tidak ngantuk, ku setel lagu-lagu hip-hop milik Pangalo, Homocide, dan Bars of Death. Anak-anak SMP maupun SMA hari ini pulang lebih awal. Sebelum Dhuhur. Kemungkinan gurunya rapat. Seyayasan barangkali.
Jam satu siang, Abi dan temannya —tak tau namanya— datang membeli. Abi (Bearpunk—nama Instagramnya) merupakan anak SMA Mazraatul Ulum Paciran yang paling akrab dengan mahasiswa yang pernah PPL di sekolahnya sana. Begitupun denganku, sangat akrab. Waktu PPL dulu, kelasnya sering ku masuki jika tak ada gurunya. Entah itu mengajar atau hanya sebatas ngobrol didalam kelas. Hingga kami saling berbalas pesan di Instagram maupun WhatsApp.
Sebenarnya yang membuat kita nampak akrab bukan tercipta lewat hubungan pengajar-murid, melainkan lewat persamaan kacamata pemuda dalam memandang hidup. Entah itu berbicara fashion, musik, kenakalan, dan lain sebagainya. Obrolan kami pun nampak cocok-nyambung walaupun kami ada jarak perbedaan usia. Iya, bagiku mahasiswa dan siswa sama saja jika berbicara soal gairah hidup, masa muda, dan kenakalan.
Abi dan temannya tak lama. Setelah satu batang kretek Aga menyisakan putung. Terhitung hanya mampir selepas pulang sekolah. Tapi tak apa. Setidaknya sudah mau silaturahmi dan menjalin hubungan agar tak terputus. Tak lupa, kami foto berdua sebagai upaya merayakan pertemuan.
Setelah Abi dan temannya hilang dari pandangan, aku kembali masuk ke stand. Duduk, mendengarkan musik, sambil menunggu para pembeli.
Komentar
Posting Komentar