IKAN, KEHIDUPAN, KEDAMAIAN

Hari ini aku membersihkan aquarium. Setelah kurang lebih sebulan air belum pernah diganti. Air telah lama kotor. Begitupun bau. Dan ikan tidak mengenal istilah 'kebersihan sebagian dari iman'.

Aku merawat 4 ikan cupang berwarna putih. Dulu ada 12 ekor dan kini tinggal sisanya. 2 ekor agak besar dan 2 ekor lagi masih kecil. Ikan yang besar ku beri nama Legislatif dan Eksekutif. Sedangkan ikan kecil ku beri nama Yudikatif dan Rakyat. Meskipun kesemuanya ikan berjenis cupang, tapi mereka rukun hidup bersama di aquarium yang ku beri nama Madinatul Al-Anarqiyah.


Bumi Damai Madinatul Al-Anarqiyah

Kehidupan di aquarium tidak mengenal pemimpin. Karena di mata Udin semuanya sama —sama-sama ikan. Yang membedakan hanya tingkat ketaqwaan saja. Tapi walaupun begitu, meski ikan cupang, para ikan tidak pernah berantem sebagaimana tabiatnya. Semua gemah ripah lo jinawi.

Sempat mengalami krisis pangan sebab kelalaian. Tapi Alhamdulillah tidak ada yang saling membunuh. Dan, kini sudah tercipta swasembada pangan, jadi masalah pangan sudah aman. Tinggal setidaknya rutin seminggu sekali membersihkan Madinatul Al-Anarqiyah. 

Namun sebagaimana negeri-negeri besar di luar sana, Madinatul Al-Anarqiyah pun pernah diguncang isu. Misalnya, gosip bahwa Legislatif diam-diam makan lebih banyak daripada jatahnya, atau Eksekutif sering tampil gagah hanya karena tubuhnya memang besar. Tapi itu hanya ilusi politik saja.


Pada akhirnya, di dalam aquarium, air yang kotor membuat semua sama bau, dan makanan yang jatuh dari atas tetap diperebutkan dengan derajat yang setara. Di situ keadilan bekerja tanpa perlu undang-undang.

Madinatul Al-Anarqiyah adalah surga kecil yang bergantung penuh pada satu tangan maha kuasa: tangan Udin. Asuog. Jika Udin lalai, maka krisis kembali datang. Jika Udin rajin, maka kemakmuran kembali mengalir. Artinya, peradaban ini sesungguhnya bukan soal siapa yang memimpin, melainkan siapa yang mau repot membersihkan lumut dan mengganti air.

Dan akhirul kalam, kalau para manusia di luar sana belajar dari para cupang putih ini, mereka akan sadar; tak perlu kursi empuk dan janji muluk untuk hidup rukun. Cukup air bersih, makanan cukup, dan tidak usah serakah. Dengan begitu semua bisa gemah ripah lo jinawi!

Sekian.

Peace for all.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JURNAL HARIAN #1

MAHASISWA JINAK