MAHASISWA JINAK


Ketika melihat status WhatsApp salah satu mahasiswa yang dengan bangganya bisa duduk bersebelahan dengan DPRD Lamongan, rasanya kok gimana gitu ya. Seolah-olah DPRD adalah orang yang terhormat. Dan berfoto dengannya adalah suatu kebanggaan. Heiisss. Elitis. Birokratis. Semoga saya dijauhkan Allah dari mahasiswa dengan pola pikir seperti itu.

Siangnya saya melihat story mahasiswa bersama DPRD, eh malamnya malah lihat story Instagram PC PMII Lamongan sedang buka bersama dengan Kapolres Lamongan. Terlihat akrab. Hangat. Penuh senyum basa-basi. Mereka kok bisa mesra banget ya? Padahal banyak sekali berita-berita yang tak sekedar pahit tapi juga mengiris nurani. Beberapa hari yang lalu misalnya seorang pelajar di Kota Tual, NTT, dibunuh aparat kepolisian. Dari berita se-kejam inipun PC PMII belum menyampaikan pernyataan dan sikapnya. 

Entah ini soal lupa, takut, atau memang sengaja bungkam. Yang jelas, keberpihakan mahasiswa hari ini makin kabur. Tak ada taringnya. Dan mudah dijinakkan. Jika mahasiswa hanya sibuk mencari validasi dari elite, lalu siapa lagi yang akan berdiri bersama rakyat?

Sebenarnya tak ada yang salah dengan bukber dengan polisi. Yang keliru adalah ketika pertemanan mengaburkan keberpihakan. Saya bisa mengatakan tidak etis. Apalagi hari-hari ini kita sering mendengar berita kebobrokan institusi itu. Polisi adalah pemegang kuasa senjata, hukum, dan legitimasi kekerasan negara. Dan setiap kuasa, betapapun rapi seragamnya, suatu hari ia akan memukul kepalamu dengan tongkatnya. Atau justru menembak kepalamu.

Hal yang harus diingat dimanapun kalian berada, bahwa mahasiswa tidak ditakdirkan menjadi sahabat kekuasaan. Tugas mahasiswa adalah sebagai pengingat kekuasaan. Posisi mengambil jarak. Jujur saja, saya malu menjadi bagian dari PC PMII Lamongan. 

Beginilah wajah gerakan yang terlalu sering bersalaman dengan kekuasaan. Ia akan kehilangan refleks marah. Kehilangan keberanian untuk bersuara. Bahkan kehilangan rasa malu. Nauzubillah.

Maka, barangkali benar. Yang berbahaya bukan hanya aparat yang menindas,
melainkan mahasiswa yang memilih akrab dengan penindas dan tetap tidur nyenyak.

Pulo Java Coffe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IKAN, KEHIDUPAN, KEDAMAIAN

JURNAL HARIAN #1

HIMMAPRODI; SEBUAH PERJALANAN HAMPIR USAI