HARI-HARI SOAL KEMATIAN
Bahwa setiap yang terlahir pasti akan mati. Entah kenapa sejak beberapa hari kemarin, pikiran ku selalu memikirkan soal kematian. Mencoba membayangkan kehidupan di alam kubur, kiamat, juga kehidupan di akhirat. Semakin mempertajam pikiran ku kesana, aku tak bisa membayangkan lagi. Aku selalu tak bisa. Antara tak masuk akal hingga kekhawatiran-ketakutan yang membayangi.
Timbul pertanyaan untuk apa aku hidup? Atau lebih lanjut, meminjam pertanyaan Albert Camus, apakah hidup layak dijalani?
Aku mencoba menggerayangi jiwaku sendiri. Persoalan hidup di dunia yang fana ini. Aku takut jika hidupku tak ada guna. Terlebih itu mati, setelahnya dilupakan. Menjadi individu di alam gelap kubur, sambil menunggu kiamat.
Martin Heidegger mengatakan manusia adalah being-toward-death (makhluk yang menuju kematian). Kesadaran bahwa kita akan mati bukan untuk menakuti, tapi untuk membuat hidup lebih otentik. Ya, dan sebagai orang yang beragama, aku masih mendambakan mati dalam keadaan khusnul khotimah.
Mencoba berani mati, tapi ketakutan perihal amal kembali membuntuti. Aku tak pandai beramal baik, sementara nafsu seringkali menang atasku. Seringkali terlena. Seringkali senang terhadap yang semu. Lalu menyesal. Lalu mengurangi kesalahan yang sama.
“Di tengah musim dingin yang paling dalam, aku akhirnya mengetahui bahwa di dalam diriku ada musim panas yang tak terkalahkan.” (Albert Camus)
Disclaimer: tulisan ini ku tulis setelah melayat. Tetanggaku, teman baik bapak, Mas Yul, berpulang di hari Sabtu kemarin (7/3/26). Suwargi langgeng.
Komentar
Posting Komentar